Mars...
ini adalah surat ke dua ku padamu..
aku tidak dapat lagi melihat walau aku tak buta,
tapi entahlah, aku masih mencari ketulusan hati..
aku tidak akan pernah berhenti sebelum smuanya bersahabat ..
kembali ku genggam..
sekarang aku tlah berani bermimpi..
ini bukan tentang sebuah angan tapi keinginan..
ia hadir ketika aku hendak tumbang, terbantai oleh gergaji-gergaji kecil
Mars, tapi aku bingung
ia masih saja menemuiku...
datang padaku saat hatinya terkoyak oleh waktu..
tapi mengapa keberanianku mati?
dimana ia terkubur bersama fosil-fosil ribuan tahun silam..
ahhh bagaimana ini?
jika pada saatnya, hujan akan menjadi timah panas
aku pun tak mampu mengatakan TIDAK
mengapa?
cinta yang membuatku lemah,
terkikis perlahan, namun benci ku padanya terganti ..
aku ingin menghempaskannya, seperti ketika laut marah pada ombak
tapi bagaimana?
beritahu aku cara yang tepat..
dimana aku harus menemukannya agar ia terganti oleh ketulusan..
Mars,,
aku rindu pada suara termerdu yang sering ku dengar..
mengalun bersama hembusan nafasku...
aku ingin mengulanginya..
mustahil...
aku tlah terlampau jauh bersama jejak-jejak kaki mimpiku...
kembali berarti aku gagal..
tapi aku rindu padanya
walau ia berada di dunia yang berbeda
padaku ia bersandar dan dimatanya ku temukan ketulusan yang tak terhingga..
seperti populasi oksigen..