Jumat, 22 Februari 2013

Muhasabah

MUHASABAH

Robbi……
Aku malu menghadap-Mu
Karena aku tahu……
Betapa banyak dosa yang terpoles di wajah ini
Betapa banyak cumbu rayu semu yang menyeretku kian jauh dari-Mu
Aku malu menatap-Mu walau lewat kerling dari sudut mataku
Karena aku tahu betapa banyak nista yang kubiarkan lewat di pandangku
Menjual mimpi harapan palsu
Dan semakin terlena-lah aku
Terbuai melupakan Mu

Robbi….
Sungguh aku malu tuk tegak berdiri di hadapan-Mu
Karena aku tahu……
Betapa angkuh dan aniayanya aku
Merasa diri begitu besar dan sempurna
Sehingga syukurku jatuh limbung diterjang nafsu dan kesombonganku

Tapi…..ya Robbi…
Biarkan aku malu dan menyesali masa lalu
Tuk mulai arif menghitung-hitung setiap detik yang kian membentang
Yang mungkin Kau sisakan untukku
Biaskan cakrawala baru tuk mengubah kelam hidupku

Biarkan aku malu Ya Robbi
Di penghujung malam yang hening milik-Mu
Dalam tangis dan munajatku yang paling bening
Biarkan aku tumpahkan segala rasa
Di atas sajadahku yang penuh air mata………

Manajemen Waktu



Dalam surat Al-Ashr : 1-3, Allah SWT telah memperingatkan kita akan pentingnya sebuah waktu juga dalam surat Al-Fajr, Ad-Dhuha, dan lain-lain. Menurut pendapat ahli tafsir apabila Allah sesuatu dan ciptaan-Nya, maka itu untuk menjadikan pandangan manusia tertuju kepada-Nya. Dan mengingatkan mereka akan manfaat yang besar dan pengaruhnya yang abadi.
Waktu adalah harta termahal yang dimiliki manusia dan tidak bisa dicari penggantinya. Seorang muslim yang menyia-nyiakan waktu seharusnya karena telah menyia-nyiakan kehidupaanya sendiri. Seorang sahabat Rasulullah SAW, yang bernama Ibnu Mas’ud pernah berkata, ”Aku tidak pernah menyesali sesuatu. Penyesalanku ada pada hari yang telah berlalu. Karena umurku berkurang sementara amalku tidak bertambah.” generasi sahabat selalu mengganggap bahwa mereka telah berbuat  ingkar  pada  Allah jika waktu berlalu tanpa manfaat, baik bagi diri mereka sendiri  maupun untuk orang lain.
Lalu bagaimana dengan kita ? perhatian kita terhadap waktu sering diabaikan. Kita begitu asyik dengan berbagai aktifitas  yang menyebabkan waktu hilang sedangkan nilainya di sisi Allah tidak ada. Waktu sering kali kita habiskan di depan komputer untuk main game, mengunjungi orang lain, mendengarkan musik atau lagu-lagu barat dan yang paling sering adalah menonton TV. Inilah penyakit yang tidak hanya melanda di kota tapi juga di pedesaan.
Rasulullah SAW dalam hadistnya telah banyak  memberikan pesan yang amat penting yang berkaitan dengan waktu. Salah satunya sunnah Nabi yang menetapkan nilai waktu dan menetapkan tanggung jawab manusia terhadapnya di hadapan Allah SWT pada hari kiamat hingga dua di antara empat pertanyaan yang terpenting yang akan dipertanyakan di hari perhitungan nanti adalah mengenai waktu.
Dari Mu’adz bin Jabal, bersabda Rasulullah SAW, ”Tidak akan tergelincir dalam kurung binasa kedua kaki seorang hamba dihari kiamat hingga ditanyakan kepadanya empat perkara. Usianya untuk apa dia habiskan, hartanya darimana dia dapatkan dan pada siapa dia keluarkan serta ilmunya dan apa-apa yang ia perbuat dengannya.”  (HR. Bazzar dan Thabrani )
Peringatan Allah dan Rasul-Nya seharusnya menggugah kita untuk memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Namun seringkali banyak di antara kita mencoba membuat pemaafan-pamaafan sendiri dengan berkata tidak mampu. Mari kita berintrospeksi diri, apakah kita mampu atau godaan setan yang begitu kuatnya sehingga kita merasa enggan? Hendaknya kita takut akan murka Allah pada seorang hamba yang menyia-nyiakan waktunya.


MENYIASATI WAKTU 
Seorang ulama besar Dr. Yusuf Qardawi dalam bukunya ”Waktu Dalam Kehidupan Muslim” memberi kiat-kiat bagi kita agar ampu menyiasati waktu dan mengisinya dengan hal-hal yang dapat mendatangkan balasan pahala dari Allah SWT.
1.     Menjaga manfaat waktu
      Kewajiban muslim yang utama terhadap waktu adalah menjaganya sebagaimana dia menjaga hartanya, bahkan harus lebih dari itu. Kemudian ia harus manfaat dari waktunya untuk kepentingan dan dan dunianya, serta untuk kebahagiaan dan kebaikan umatnya.
      Agar manfaat waktu menjadi optimal, seorang muslim harus pandai-pandai mengatur waktu. Ia harus tahu kapan suatu pekerjaan harus didahulukan, penting, dan kurang penting. Membagi-bagi pekerjaannya dalam beberapa tahap agar tidak tumpang tindih. Dengan pengaturan waktu yang efektif  insya Allah seorang muslim mampu melaksankan pekerjaan dengan baik.
      Dengan melakukan ibadahnya seorang muslim harus mengetahui waktu-waktu istimewa yang telah ditetapkan oleh Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya. Mendekatkan diri kepada-Nya di akhir malam berdua di waktu-waktu istimewa yang sama kita ketahui. Sekarang tinggal kita memanfaatkannya.
2.     Tidak menyia-nyiakan waktu
      Sunggu orang yang telah menyia-nyiakan waktunya lebih patut mendapatkan peringatan dibanding dengan orang yang menyia-nyiakan hartanya. Menyia-nyiakan waktu adalah lambang kebodohan. Muslim yang benar tidak akan membiarkan waktunya hilang percuma. Mengapa? Sebab ia tahu bahwa di setiap waktu ada aktivitas yang harus dikerjakan. Menyia-nyiakan waktu berarti mempersulit diri dengan menumpuk pekerjaan. Orang-orang yang terbiasa menggunakan waktunya untuk perbuatan yang sia-sia (laghwi), jelas akan tertinggal jauh. Waktu luang yang diisi dengan perbuatan laghwi cenderung membawa seseorang kepada kemaksiatan.
3.     Berlomba-lomba jalan kebaikan
      Orang mukmin yang mengerti akan manfaat waktu, merupakan keharusan baginya untuk selalu mengerjakan kebaikan. Dan tak layak baginya untuk menunda kewajiban hari ini ke hari yang lain dengan alasan malas atau berat hati. Ada sebuah pepatah, ”Takkan kutunda pekerjaan hari ini hingga esok bagi orang-orang yang malas. Sesungguhnya hari esok bagi orang-orang yang malas.” Al-Qur’an sendiri menganjurkan manusia agar berlomba-lomba dalam kebaikan. ”Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. Di mana saja kamu berada Allah pasti akan mengumpulkan kalian.” (Q.S.2:146).
4.     Belajar dari perjalanan hari demi hari
      Berlainan masa dan berputarnya siang dan malam mengandung banyak pelajaran bagi orang beriman. Peristiwa dari kejadian yang berlalu memiliki hikmah yang dapat menyadarkan kita akan kekurangan dan kelemahan kita akan keagungan dan kebesaran Allah Ta’ala. (QS.3:2; 4:44)
5.     Mengatur waktu
      Seorang mukmin harus mampu mengatur dan membagi waktunya antara kewajiban dari pekerjaan serta dunia dan akhiratnya. Sehingga tidak tumpang tindih antara yang penting dengan yang tidak penting. Dan antara yang telah ditentukan waktu dengan yang belum ditentukan. Pekerjaan yang harus didahulukan dan pekerjaan yang terbatas waktunya harus dikerjakan tepat waktu.
      Diriwayatkan oleh rasulullah dari lembaran Nabi Ibrahim, ”Orang yang  berakal dan dapat mengendaliakannya seharusnya memiliki 4 waktu :
1.     Waktu untuk memunajat pada Rabbnya
2.     Waktu untuk introspeksi
3.     Waktu untuk memikirkan ciptaan Allah
4.     Waktu untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan jasmani dari makan dan minum.
      Biasanya orang dengan etos kerja yang tinggi, dialah yang bertanggung jawab. Terhadap pembagian waktu. Walaupun demikian, hendaklah dalam waktu yang luang meski sedikit, karena hati atau jiwa juga merasakan lelah dan bosan seperti halnya tubuh. Khalifah Ali bin Abi Thalib pernah berkata, ”Berilah hatimu waktu sekedar untuk beristirahat. Karena hati itu kalau dipaksa akan menjadi buta. ”
6.     Bagi tiap waktu ada aktivitasnya
      Seorang mukmin harus menyadari bahwa waktu menuntut aktivitas hati, jiwa, dan perbuatan untuk memenuhi kebutuhan jiwa dan raganya. Khalifah Abu Bakar r.a. pernah berkata, ”Ketahuilah, bagi Allah perbuatan di siang hari, ia tidak akan menerimanya di malam hari. Dan baginya perbuatan di malam hari. Ia tidak akan menerimanya di siang hari.”
      Maka yang terpenting bukanlah seorang itu dapat berbuat apapun dan pada saat kapanpun, tetapi ia dapat mengerjakan segala sesuatu pada waktu yang telah ditetapkan. Oleh karena itu kewajiban manusia kepada Allah harus dilaksanakan tepat pada waktunya tidak boleh didahulukan atau diakhirkan.

Gelombang Samudera Jilbab

Jilbab  adalah furqan
Batas antara haq dan batil
Jarak  antara keindahan dan keburukan
Kami………..
Jilbab-jilbab ini adalah bahasa dien kami
Bahasa sosial dan bahasa kebudayaan kami
Jilbab adalah sikap kami
Keputusan kami
Proses perjuangan kami
Pernyataan akidah kami
Proses belajar dan pencarian kami
Keberanian di tengah  hari-hari  yang sangat menakutkan
Percikan cahaya di tengah kegelapan
Kejujuran di tengah kelicikan
Kelemahan di tengah kebrutalan
Kebersahajaan di tengah kemunafikan
Perlindungan di tengah sergapan
Kami belajar menyarungkan jilbab keyakinan kepala kami
Pilihan jilbab keberanian dan jilbab istiqamah
Di dalam hati  nurani kami
Di akal sehat kami
Di seluruh jiwa kepribadian kami
Inilah kami…………
Jilbab kebudayaan, kemasyarakatan, kain, dan rohani
Jilbab anugerah illahi rabbi
Kami tahu bagaiman menapak dalam irama
Batas untuk tidak tergesa-gesa
Mengerti untuk tidak melompati waktu dan kenyataan
Bagaimana bernafas setarikan demi setarikan
Selangkah demi selangkah, hikmah demi hikmah
Rahasia demi rahasia
Kemenangan demi kemenangan
Wahai………
Jangan terlalu meremehkan kami
Kami sekarang ini sedang menghimpun akal sehat
Membangun hati-hati yang bersih
Menapaki langkah-langkah yang paling tepat untuk kami pilih…
Kamilah samudera jilbab
Gelombang perjuangan yang tak mungkin bisa berhenti kecuali atas kehendak-nya


Antara Mata dan hati

           Mata adalah penuntun, dan hati adalah pendorong dan penuntut. Mata memiliki kenikmatan pandangan dan hati memiliki kenikmatan pencapaian. Keduanya merupakan sekutu yang mesra dalam setiap tindakan dan amal perbuatan manusia, dan tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lain.
           Ketika seseorang memiliki niat untuk melakukan sesuatu yang muncul dari dalam hati, maka dia memerlukan mata sebagai penuntunnya. Untuk melihat, mengamati, dan kemudian otak ikut bekerja untuk mengambil keputusan.
           Bila seseorang memiliki niat untuk melakukan amal yang baik, maka mata menuntunnya kearah yang baik pula. Dan bila seseorang berniat melakukan suatu perbuatan yang tidak baik, maka mata akan menuntunnya kearah yang tidak baik pula.
           Sebaliknya bisa pula terjadi, ketika mata melihat sesuatu yang menarik, lalu melahirkan niatan untuk memperoleh kenikmatan dari hal yang dilihatnya, maka hati akan mendorong mata untuk menjelajah lebih jauh lagi, agar dia memperoleh kepuasan dalam memandangnya. Sehingga Allah SWT memberikan kepada kita semua rambu-rambu yang sangat antisipatif, yaitu perintah untuk menundukkan pandangan: "Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat".
"Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya." (QS. An Nuur: 30-31)
           Demikianlah hal yang terjadi, sehingga ketika manusia terpuruk dalam kesesatan, maka terjadilah dialog antara mata dan hati, seperti yang dituturkan oleh seorang ulama besar Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah dalam bukunya "Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu".

Hati berkata kepada Mata
Kaulah yang telah menyeretku kepada kebinasaan dan mengakibatkan penyesalan karena aku mengikutimu beberapa saat saja. Kau lemparkan kerlingan matamu ke taman itu, kau mencari kesembuhan dari kebun yang tidak sehat, kau salahi firman Allah, "Hendaklah mereka menahan pandangannya", kau salahi sabda Rasulullah Saw, "Memandang wanita adalah panah beracun dari berbagai macam panah Iblis. Barangsiapa meninggalkannya karena takut kepada Allah Azza wa Jalla, maka Allah akan memberi balasan iman kepadanya, yang akan didapati kelezatannya di dalam hatinya". (H.R. Ahmad)

Sanggahan Mata terhadap Hati
Kau zhalimi aku sejak awal hingga akhir. Kau kukuhkan dosaku lahir dan batin. Padahal aku hanyalah utusanmu yang selalu taat dan penuntun yang menunjukkan jalan kepadamu. Engkau adalah raja yang ditaati. Sedangkan kami hanyalah rakyat dan pengikut. Untuk memenuhi kebutuhanmu, kau naikkan aku ke atas kuda yang binal, disertai ancaman dan peringatan. Jika kau suruh aku untuk menutup pintuku dan menjulurkan hijabku, dengan senang hati akan kuturuti perintah itu. Jika engkau memaksakan diri untuk menggembala di kebun yang dipagari dan engkau mengirimku untuk berburu di tempat yang dipasangi jebakan, tentu engkau akan menjadi tawanan yang sebelumnya engkau adalah seorang pemimpin, engkau menjadi buidak yang sebelumnya engkau adalah tuan. Yang demikian itu karena pemimpin manusia dan hakim yang paling adil, Rasulullah Saw, telah membuat keputusan bagiku atas dirimu, dengan bersabda: "Sesungguhnya di dalam tubuh itu ada segumpal darah. Jika ia baik, maka seluruh tubuh akan baik pula, dan jika ia rusak, rusak pula seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal darah itu adalah hati." (H.R. Bukhori Muslim dan lainnya).
Abu Hurairah Ra. Berkata, "Hati adalah raja dan seluruh anggota tubuh adalah pasukannya. Jika rajanya baik, maka baik pula pasukannya. Jika raja buruk, buruk pula pasukannya". Jika engkau dianugerahi pandangan, tentu engkau tahu bahwa rusaknya para pengikutmu adalah karena kerusakan dirimu, dan kebaikan mereka adalah karena kebaikanmu. Jika engkau rusak, rusak pula para pengikutmu. Lalu engkau lemparkan kesalahanmu kepada mata yang tak berdaya. Sumber bencana yang menimpamu adalah karena engkau tidak memiliki cinta kepada Allah, tidak menyukai dzikir kepada-Nya, tidak menyukai firman, ‘asma dan sifat-sifat-Nya. Engkau beralih kepada yang lain dan berpaling dari-Nya. Engkau berganti mencintai selain-Nya.
           Demikianlah, mata dan hati, sepasang sekutu yang sangat serasi. Bila mata digunakan dengan baik, dan hati dikendalikan dengan keimanan kepada Allah SWT, maka kerusakan dan kemungkaran dimuka bumi ini tak akan terjadi. Namun bila yang terjadi adalah sebaliknya, maka kerusakan dan bala bencanalah yang senantiasa menyapa kita.
Robb, bimbinglah kami, agar kami mampu mengendalikan hati kami dengan keimanan kepada-Mu, mengutamakan cinta kepada-Mu, dan tidak pernah berpaling dari-Mu.
Allaahumma ‘aafinii fii badanii, Allaahumma ‘aafiniifii sam’ii, Allaahumma ‘aafinii fii bashorii. Aamiin.
Ya Allah, sehatkanlah badanku, sehatkanlah pendengaranku, sehatkanlah penglihatanku.

 (di kutip dari Ummu Shofi/ari_aji_astuti@yahoo.com).