Jumat, 22 Februari 2013

Aku Jatuh Cinta

Tak ada kata yang mampu terucap tuk ungkapkan sebuah gelora yang begitu membuncah di dalam dada ini saat wajah-mu terbayang di setiap lantunan Rabithah. Betapa rindunya hati ini tuk terus berjumpa denganmu di setiap hari-hari yang penuh dengan amanah dakwah. Terasa syahdu jiwa ini saat mengingat engkau memper-dengarkan lantunan ayat demi ayat Al Quran yang telah engkau hafal-kan. Kemantapan hati-mu menempuh jalan ini dapat terlihat dari komitmen-mu untuk menunaikan kewajiban ke-hamba-an-mu pada-Nya. Senyuman dan keceria-an yang engkau hadirkan menjadi cerminan kebahagiaan hati ini yang sama sekali tak pernah membayangkan betapa besarnya karunia Sang Maha Berkehendak yang telah men-takdirkan kita untuk bertemu. Tak sadar air mata ini jatuh, mengingat Taujih Rabbani dari Sang Pemilik Hati ini: “Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana.”
Jika hari-hari dalam kehidupan ini diibaratkan seperti lembaran-lembaran buku kehidupan, maka pada Bab ini-lah yang paling tak ingin dilalui. Karena pada Bab ini, ALLAH telah menganugerahkan sebuah rasa yang tak dapat ditukar dengan apapun itu, bahkan dengan ‘semua kekayaan yang ada di muka bumi ini’! Ini-kah cinta?! Jika cinta itu adalah rasa bahagia saat bertemu, rasa rindu saat jauh, rasa kehilangan jika berpisah, ingin memberikan yang terbaik, hadirnya memberi semangat, mengingatnya semakin menambah kecintaan hati ini pada Sang Pemilik Cinta seraya semakin memohon pada-Nya agar hubungan ini tetap dikekal-kan, maka, mungkin-kah hati ini telah jatuh cinta?!. Subhanallah!, masih ada-kah alasan bagi hati untuk mengingkari nikmat-Mu yaa… ALLAH, yang telah memberikan kesempatan bertemu dengan hamba-hamba-Mu ini untuk menikmati kelezatan syurga dunia-Mu. Merajut ukhuwwah, saling menasehati, saling mengingatkan, saling memberi, semuanya dalam rangka beribadah kepada-Mu. Maka hadirlah sebuah permohonan bagi hubungan ini, “Kekal-kanlah Ya…ALLAH, kekal-kanlah ….”

Sebuah cinta butuh pengorbanan, namun hati ini bukan mengharapkan cinta yang seperti lilin, menerangi di kegelapan namun ia-nya tak mampu menyelamatkan diri-nya sendiri. Bukti cinta adalah kesetiaan, namun bukan seperti cinta-nya Laila yang hati ini ingin-kan, yang karena kesetiaan-nya telah membuat ia harus kehilangan akal sehat-nya. Hati ini hanya menginginkan sebuah cinta yang didasari oleh keimanan, bukan pesona yang tanpa harapan. Karena rasa ini  tak pernah sama sekali sengaja untuk dihadirkan oleh nafsu yang karenanya hanya akan mengundang kemurkaan ALLAH melainkan sebuah kesucian rasa yang tiba-tiba saja (atas izin-Nya) mengalir dalam ruh saat jasad menjalankan aktivitasnya dalam rangka ibadah kepada ALLAH. Sebab kami tak hanya ingin mencintai di dunia tapi juga di kehidupan setelah-nya. Aaamien…!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar