Tak ada kata yang mampu terucap tuk ungkapkan
sebuah gelora yang begitu membuncah di dalam dada ini saat wajah-mu terbayang
di setiap lantunan Rabithah. Betapa rindunya hati ini tuk terus berjumpa
denganmu di setiap hari-hari yang penuh dengan amanah dakwah. Terasa syahdu
jiwa ini saat mengingat engkau memper-dengarkan lantunan ayat demi ayat Al
Quran yang telah engkau hafal-kan. Kemantapan hati-mu menempuh jalan ini dapat
terlihat dari komitmen-mu untuk menunaikan kewajiban ke-hamba-an-mu pada-Nya.
Senyuman dan keceria-an yang engkau hadirkan menjadi cerminan kebahagiaan hati
ini yang sama sekali tak pernah membayangkan betapa besarnya karunia Sang Maha
Berkehendak yang telah men-takdirkan kita untuk bertemu. Tak sadar air mata ini
jatuh, mengingat Taujih Rabbani dari Sang Pemilik Hati ini: “Dan Yang mempersatukan hati mereka
(orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang
berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi
Allah telah mempersatukan hati mereka.
Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana.”
Jika hari-hari dalam kehidupan ini diibaratkan
seperti lembaran-lembaran buku kehidupan, maka pada Bab ini-lah yang paling tak
ingin dilalui. Karena pada Bab ini, ALLAH telah menganugerahkan sebuah rasa
yang tak dapat ditukar dengan apapun itu, bahkan dengan ‘semua kekayaan yang
ada di muka bumi ini’! Ini-kah cinta?! Jika cinta itu adalah rasa bahagia saat
bertemu, rasa rindu saat jauh, rasa kehilangan jika berpisah, ingin memberikan
yang terbaik, hadirnya memberi semangat, mengingatnya semakin menambah
kecintaan hati ini pada Sang Pemilik Cinta seraya semakin memohon pada-Nya agar
hubungan ini tetap dikekal-kan, maka, mungkin-kah hati ini telah jatuh cinta?!.
Subhanallah!, masih ada-kah alasan bagi hati untuk mengingkari nikmat-Mu yaa…
ALLAH, yang telah memberikan kesempatan bertemu dengan hamba-hamba-Mu ini untuk
menikmati kelezatan syurga dunia-Mu. Merajut ukhuwwah, saling menasehati,
saling mengingatkan, saling memberi, semuanya dalam rangka beribadah kepada-Mu.
Maka hadirlah sebuah permohonan bagi hubungan ini, “Kekal-kanlah Ya…ALLAH,
kekal-kanlah ….”
Sebuah cinta butuh pengorbanan, namun hati ini
bukan mengharapkan cinta yang seperti lilin, menerangi di kegelapan namun
ia-nya tak mampu menyelamatkan diri-nya sendiri. Bukti cinta adalah kesetiaan,
namun bukan seperti cinta-nya Laila yang hati ini ingin-kan, yang karena
kesetiaan-nya telah membuat ia harus kehilangan akal sehat-nya. Hati ini hanya
menginginkan sebuah cinta yang didasari oleh keimanan, bukan pesona yang tanpa
harapan. Karena rasa ini tak pernah sama
sekali sengaja untuk dihadirkan oleh nafsu yang karenanya hanya akan mengundang
kemurkaan ALLAH melainkan sebuah kesucian rasa yang tiba-tiba saja (atas
izin-Nya) mengalir dalam ruh saat jasad menjalankan aktivitasnya dalam rangka
ibadah kepada ALLAH. Sebab kami tak hanya ingin mencintai di dunia tapi juga di
kehidupan setelah-nya. Aaamien…!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar