Jumat, 22 Februari 2013

Manajemen Waktu



Dalam surat Al-Ashr : 1-3, Allah SWT telah memperingatkan kita akan pentingnya sebuah waktu juga dalam surat Al-Fajr, Ad-Dhuha, dan lain-lain. Menurut pendapat ahli tafsir apabila Allah sesuatu dan ciptaan-Nya, maka itu untuk menjadikan pandangan manusia tertuju kepada-Nya. Dan mengingatkan mereka akan manfaat yang besar dan pengaruhnya yang abadi.
Waktu adalah harta termahal yang dimiliki manusia dan tidak bisa dicari penggantinya. Seorang muslim yang menyia-nyiakan waktu seharusnya karena telah menyia-nyiakan kehidupaanya sendiri. Seorang sahabat Rasulullah SAW, yang bernama Ibnu Mas’ud pernah berkata, ”Aku tidak pernah menyesali sesuatu. Penyesalanku ada pada hari yang telah berlalu. Karena umurku berkurang sementara amalku tidak bertambah.” generasi sahabat selalu mengganggap bahwa mereka telah berbuat  ingkar  pada  Allah jika waktu berlalu tanpa manfaat, baik bagi diri mereka sendiri  maupun untuk orang lain.
Lalu bagaimana dengan kita ? perhatian kita terhadap waktu sering diabaikan. Kita begitu asyik dengan berbagai aktifitas  yang menyebabkan waktu hilang sedangkan nilainya di sisi Allah tidak ada. Waktu sering kali kita habiskan di depan komputer untuk main game, mengunjungi orang lain, mendengarkan musik atau lagu-lagu barat dan yang paling sering adalah menonton TV. Inilah penyakit yang tidak hanya melanda di kota tapi juga di pedesaan.
Rasulullah SAW dalam hadistnya telah banyak  memberikan pesan yang amat penting yang berkaitan dengan waktu. Salah satunya sunnah Nabi yang menetapkan nilai waktu dan menetapkan tanggung jawab manusia terhadapnya di hadapan Allah SWT pada hari kiamat hingga dua di antara empat pertanyaan yang terpenting yang akan dipertanyakan di hari perhitungan nanti adalah mengenai waktu.
Dari Mu’adz bin Jabal, bersabda Rasulullah SAW, ”Tidak akan tergelincir dalam kurung binasa kedua kaki seorang hamba dihari kiamat hingga ditanyakan kepadanya empat perkara. Usianya untuk apa dia habiskan, hartanya darimana dia dapatkan dan pada siapa dia keluarkan serta ilmunya dan apa-apa yang ia perbuat dengannya.”  (HR. Bazzar dan Thabrani )
Peringatan Allah dan Rasul-Nya seharusnya menggugah kita untuk memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Namun seringkali banyak di antara kita mencoba membuat pemaafan-pamaafan sendiri dengan berkata tidak mampu. Mari kita berintrospeksi diri, apakah kita mampu atau godaan setan yang begitu kuatnya sehingga kita merasa enggan? Hendaknya kita takut akan murka Allah pada seorang hamba yang menyia-nyiakan waktunya.


MENYIASATI WAKTU 
Seorang ulama besar Dr. Yusuf Qardawi dalam bukunya ”Waktu Dalam Kehidupan Muslim” memberi kiat-kiat bagi kita agar ampu menyiasati waktu dan mengisinya dengan hal-hal yang dapat mendatangkan balasan pahala dari Allah SWT.
1.     Menjaga manfaat waktu
      Kewajiban muslim yang utama terhadap waktu adalah menjaganya sebagaimana dia menjaga hartanya, bahkan harus lebih dari itu. Kemudian ia harus manfaat dari waktunya untuk kepentingan dan dan dunianya, serta untuk kebahagiaan dan kebaikan umatnya.
      Agar manfaat waktu menjadi optimal, seorang muslim harus pandai-pandai mengatur waktu. Ia harus tahu kapan suatu pekerjaan harus didahulukan, penting, dan kurang penting. Membagi-bagi pekerjaannya dalam beberapa tahap agar tidak tumpang tindih. Dengan pengaturan waktu yang efektif  insya Allah seorang muslim mampu melaksankan pekerjaan dengan baik.
      Dengan melakukan ibadahnya seorang muslim harus mengetahui waktu-waktu istimewa yang telah ditetapkan oleh Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya. Mendekatkan diri kepada-Nya di akhir malam berdua di waktu-waktu istimewa yang sama kita ketahui. Sekarang tinggal kita memanfaatkannya.
2.     Tidak menyia-nyiakan waktu
      Sunggu orang yang telah menyia-nyiakan waktunya lebih patut mendapatkan peringatan dibanding dengan orang yang menyia-nyiakan hartanya. Menyia-nyiakan waktu adalah lambang kebodohan. Muslim yang benar tidak akan membiarkan waktunya hilang percuma. Mengapa? Sebab ia tahu bahwa di setiap waktu ada aktivitas yang harus dikerjakan. Menyia-nyiakan waktu berarti mempersulit diri dengan menumpuk pekerjaan. Orang-orang yang terbiasa menggunakan waktunya untuk perbuatan yang sia-sia (laghwi), jelas akan tertinggal jauh. Waktu luang yang diisi dengan perbuatan laghwi cenderung membawa seseorang kepada kemaksiatan.
3.     Berlomba-lomba jalan kebaikan
      Orang mukmin yang mengerti akan manfaat waktu, merupakan keharusan baginya untuk selalu mengerjakan kebaikan. Dan tak layak baginya untuk menunda kewajiban hari ini ke hari yang lain dengan alasan malas atau berat hati. Ada sebuah pepatah, ”Takkan kutunda pekerjaan hari ini hingga esok bagi orang-orang yang malas. Sesungguhnya hari esok bagi orang-orang yang malas.” Al-Qur’an sendiri menganjurkan manusia agar berlomba-lomba dalam kebaikan. ”Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. Di mana saja kamu berada Allah pasti akan mengumpulkan kalian.” (Q.S.2:146).
4.     Belajar dari perjalanan hari demi hari
      Berlainan masa dan berputarnya siang dan malam mengandung banyak pelajaran bagi orang beriman. Peristiwa dari kejadian yang berlalu memiliki hikmah yang dapat menyadarkan kita akan kekurangan dan kelemahan kita akan keagungan dan kebesaran Allah Ta’ala. (QS.3:2; 4:44)
5.     Mengatur waktu
      Seorang mukmin harus mampu mengatur dan membagi waktunya antara kewajiban dari pekerjaan serta dunia dan akhiratnya. Sehingga tidak tumpang tindih antara yang penting dengan yang tidak penting. Dan antara yang telah ditentukan waktu dengan yang belum ditentukan. Pekerjaan yang harus didahulukan dan pekerjaan yang terbatas waktunya harus dikerjakan tepat waktu.
      Diriwayatkan oleh rasulullah dari lembaran Nabi Ibrahim, ”Orang yang  berakal dan dapat mengendaliakannya seharusnya memiliki 4 waktu :
1.     Waktu untuk memunajat pada Rabbnya
2.     Waktu untuk introspeksi
3.     Waktu untuk memikirkan ciptaan Allah
4.     Waktu untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan jasmani dari makan dan minum.
      Biasanya orang dengan etos kerja yang tinggi, dialah yang bertanggung jawab. Terhadap pembagian waktu. Walaupun demikian, hendaklah dalam waktu yang luang meski sedikit, karena hati atau jiwa juga merasakan lelah dan bosan seperti halnya tubuh. Khalifah Ali bin Abi Thalib pernah berkata, ”Berilah hatimu waktu sekedar untuk beristirahat. Karena hati itu kalau dipaksa akan menjadi buta. ”
6.     Bagi tiap waktu ada aktivitasnya
      Seorang mukmin harus menyadari bahwa waktu menuntut aktivitas hati, jiwa, dan perbuatan untuk memenuhi kebutuhan jiwa dan raganya. Khalifah Abu Bakar r.a. pernah berkata, ”Ketahuilah, bagi Allah perbuatan di siang hari, ia tidak akan menerimanya di malam hari. Dan baginya perbuatan di malam hari. Ia tidak akan menerimanya di siang hari.”
      Maka yang terpenting bukanlah seorang itu dapat berbuat apapun dan pada saat kapanpun, tetapi ia dapat mengerjakan segala sesuatu pada waktu yang telah ditetapkan. Oleh karena itu kewajiban manusia kepada Allah harus dilaksanakan tepat pada waktunya tidak boleh didahulukan atau diakhirkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar