Dalam surat Al-Ashr : 1-3, Allah SWT telah memperingatkan kita akan
pentingnya sebuah waktu juga dalam surat Al-Fajr, Ad-Dhuha, dan lain-lain.
Menurut pendapat ahli tafsir apabila Allah sesuatu dan ciptaan-Nya, maka itu
untuk menjadikan pandangan manusia tertuju kepada-Nya. Dan mengingatkan mereka
akan manfaat yang besar dan pengaruhnya yang abadi.
Waktu adalah harta termahal yang dimiliki manusia dan tidak bisa dicari
penggantinya. Seorang muslim yang menyia-nyiakan waktu seharusnya karena telah
menyia-nyiakan kehidupaanya sendiri. Seorang sahabat Rasulullah SAW, yang
bernama Ibnu Mas’ud pernah berkata,
”Aku tidak pernah menyesali sesuatu. Penyesalanku ada pada hari yang telah
berlalu. Karena umurku berkurang sementara amalku tidak bertambah.” generasi
sahabat selalu mengganggap bahwa mereka telah berbuat ingkar
pada Allah jika waktu berlalu
tanpa manfaat, baik bagi diri mereka sendiri
maupun untuk orang lain.
Lalu bagaimana dengan kita ? perhatian kita terhadap waktu sering
diabaikan. Kita begitu asyik dengan berbagai aktifitas yang menyebabkan waktu hilang sedangkan
nilainya di sisi Allah tidak ada. Waktu sering kali kita habiskan di depan
komputer untuk main game, mengunjungi orang lain, mendengarkan musik atau
lagu-lagu barat dan yang paling sering adalah menonton TV. Inilah penyakit yang
tidak hanya melanda di kota tapi juga di pedesaan.
Rasulullah SAW dalam hadistnya telah banyak
memberikan pesan yang amat penting yang berkaitan dengan waktu. Salah
satunya sunnah Nabi yang menetapkan nilai waktu dan menetapkan tanggung jawab
manusia terhadapnya di hadapan Allah SWT pada hari kiamat hingga dua di antara
empat pertanyaan yang terpenting yang akan dipertanyakan di hari perhitungan
nanti adalah mengenai waktu.
Dari Mu’adz bin Jabal, bersabda
Rasulullah SAW, ”Tidak akan tergelincir
dalam kurung binasa kedua kaki seorang hamba dihari kiamat hingga ditanyakan
kepadanya empat perkara. Usianya untuk apa dia habiskan, hartanya darimana dia
dapatkan dan pada siapa dia keluarkan serta ilmunya dan apa-apa yang ia perbuat
dengannya.” (HR. Bazzar dan Thabrani
)
Peringatan Allah dan Rasul-Nya seharusnya menggugah kita untuk memanfaatkan
waktu dengan sebaik-baiknya. Namun seringkali banyak di antara kita mencoba
membuat pemaafan-pamaafan sendiri dengan berkata tidak mampu. Mari kita
berintrospeksi diri, apakah kita mampu atau godaan setan yang begitu kuatnya
sehingga kita merasa enggan? Hendaknya kita takut akan murka Allah pada seorang
hamba yang menyia-nyiakan waktunya.
MENYIASATI WAKTU
Seorang ulama besar Dr. Yusuf
Qardawi dalam bukunya ”Waktu Dalam Kehidupan Muslim” memberi kiat-kiat bagi
kita agar ampu menyiasati waktu dan mengisinya dengan hal-hal yang dapat
mendatangkan balasan pahala dari Allah SWT.
1.
Menjaga manfaat waktu
Kewajiban muslim yang utama
terhadap waktu adalah menjaganya sebagaimana dia menjaga hartanya, bahkan harus
lebih dari itu. Kemudian ia harus manfaat dari waktunya untuk kepentingan dan
dan dunianya, serta untuk kebahagiaan dan kebaikan umatnya.
Agar manfaat waktu menjadi
optimal, seorang muslim harus pandai-pandai mengatur waktu. Ia harus tahu kapan
suatu pekerjaan harus didahulukan, penting, dan kurang penting. Membagi-bagi
pekerjaannya dalam beberapa tahap agar tidak tumpang tindih. Dengan pengaturan
waktu yang efektif insya Allah seorang
muslim mampu melaksankan pekerjaan dengan baik.
Dengan melakukan ibadahnya
seorang muslim harus mengetahui waktu-waktu istimewa yang telah ditetapkan oleh
Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya. Mendekatkan diri kepada-Nya di akhir malam berdua
di waktu-waktu istimewa yang sama kita ketahui. Sekarang tinggal kita
memanfaatkannya.
2.
Tidak menyia-nyiakan waktu
Sunggu orang yang telah
menyia-nyiakan waktunya lebih patut mendapatkan peringatan dibanding dengan
orang yang menyia-nyiakan hartanya. Menyia-nyiakan waktu adalah lambang
kebodohan. Muslim yang benar tidak akan membiarkan waktunya hilang percuma.
Mengapa? Sebab ia tahu bahwa di setiap waktu ada aktivitas yang harus
dikerjakan. Menyia-nyiakan waktu berarti mempersulit diri dengan menumpuk
pekerjaan. Orang-orang yang terbiasa menggunakan waktunya untuk perbuatan yang
sia-sia (laghwi), jelas akan tertinggal jauh. Waktu luang yang diisi dengan
perbuatan laghwi cenderung membawa seseorang kepada kemaksiatan.
3.
Berlomba-lomba jalan kebaikan
Orang mukmin yang mengerti akan
manfaat waktu, merupakan keharusan baginya untuk selalu mengerjakan kebaikan.
Dan tak layak baginya untuk menunda kewajiban hari ini ke hari yang lain dengan
alasan malas atau berat hati. Ada sebuah pepatah, ”Takkan kutunda pekerjaan hari ini hingga esok bagi orang-orang yang
malas. Sesungguhnya hari esok bagi orang-orang yang malas.” Al-Qur’an
sendiri menganjurkan manusia agar berlomba-lomba dalam kebaikan. ”Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan.
Di mana saja kamu berada Allah pasti akan mengumpulkan kalian.” (Q.S.2:146).
4.
Belajar dari perjalanan hari demi hari
Berlainan masa dan berputarnya
siang dan malam mengandung banyak pelajaran bagi orang beriman. Peristiwa dari
kejadian yang berlalu memiliki hikmah yang dapat menyadarkan kita akan
kekurangan dan kelemahan kita akan keagungan dan kebesaran Allah Ta’ala.
(QS.3:2; 4:44)
5.
Mengatur waktu
Seorang mukmin harus mampu
mengatur dan membagi waktunya antara kewajiban dari pekerjaan serta dunia dan
akhiratnya. Sehingga tidak tumpang tindih antara yang penting dengan yang tidak
penting. Dan antara yang telah ditentukan waktu dengan yang belum ditentukan.
Pekerjaan yang harus didahulukan dan pekerjaan yang terbatas waktunya harus
dikerjakan tepat waktu.
Diriwayatkan oleh rasulullah
dari lembaran Nabi Ibrahim, ”Orang yang
berakal dan dapat mengendaliakannya seharusnya memiliki 4 waktu :
1. Waktu untuk memunajat pada Rabbnya
2. Waktu untuk introspeksi
3. Waktu untuk memikirkan ciptaan Allah
4. Waktu untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan jasmani dari makan dan minum.
Biasanya orang dengan etos kerja
yang tinggi, dialah yang bertanggung jawab. Terhadap pembagian waktu. Walaupun
demikian, hendaklah dalam waktu yang luang meski sedikit, karena hati atau jiwa
juga merasakan lelah dan bosan seperti halnya tubuh. Khalifah Ali bin Abi Thalib pernah berkata, ”Berilah hatimu waktu sekedar untuk beristirahat. Karena hati itu kalau
dipaksa akan menjadi buta. ”
6. Bagi tiap waktu ada aktivitasnya
Seorang mukmin harus menyadari
bahwa waktu menuntut aktivitas hati, jiwa, dan perbuatan untuk memenuhi
kebutuhan jiwa dan raganya. Khalifah Abu
Bakar r.a. pernah berkata, ”Ketahuilah, bagi Allah perbuatan di siang hari,
ia tidak akan menerimanya di malam hari. Dan baginya perbuatan di malam hari.
Ia tidak akan menerimanya di siang hari.”
Maka yang terpenting bukanlah
seorang itu dapat berbuat apapun dan pada saat kapanpun, tetapi ia dapat
mengerjakan segala sesuatu pada waktu yang telah ditetapkan. Oleh karena itu
kewajiban manusia kepada Allah harus dilaksanakan tepat pada waktunya tidak
boleh didahulukan atau diakhirkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar