Jumat, 19 Oktober 2012

Aku Ingin Pulang


                         Aku Ingin Pulang
Dedaunan di pinggir kali itu mulai berguguran seperti hujan ketika kemarau berganti. Mengguyur seisi planet biru ini. Kali ini bukan air yang jatuh, tapi dedaunan kuning dan kering terpisah dari populasi hijaunya. Menyebalkan tapi aku tak ingin mengingkari kodratnya,. Aku yakin ia pun sedih seperti ku. Karena keegoisan alam ia harus gugur dan menjadi sampah. Ahh rasanya aku tidak ingin terbangun dari mimpi yang sangat panjang, tapi mentari itu menyengat kulitku melalui jendela ruangan ini.
Oksigen baru, benar-benar terasa asing dalam hembusan nafasku sendiri. Aku harus tegar. Walau berkali-kali semut-semut kecil itu mengecup nadiku dengan manja.  Tak kenal kapan ia melumpuhkanku. Benar-benar gelap., lagi dan lagi aku membuat bunda panik. Seringkali aku tak sadarkan diri. Sejak saat itu aku sering berkawan dengan cairan-cairan putih dan semut-semut kecil milik ayah dan para rekan kerjanya.
Senja yang indah, rasanya aku ingin berlari diantara keramaian itu. Bersenda gurau dengan sunset-sunset dan semua pecintanya. Ditambah lagi gemuruh ombak di pantai seruni seakan memanjakan mataku. Rasanya aku ingin berdiri ditengah-tengah keramaian itu. Tapi langkahku terhenti semut-semut itu masih mengecup manja nadiku. Aku hanya bisa melihatnya melalui jendela. Perlahan mataku tertuju pada sebuah amplop besar yang tersusun rapi diatas rak dekat pembaringan itu. Awalnya aku ragu dengan kemampuan akomodasi indraku. molekul keyakinan pun kusatukan menjadi partikel-partikel. “Alissya Zhivhanka Ghinayah Zhulfa Idzzati"  yah tidak salah lagi.  Bukankah hasil pemeriksaannya kemarin sudah ada dirumah tapi mengapa masih ada disini?”
Ribuan tanya pun menghantuiku, ada perasaan takut yang menyergapku. Perlahan kuraih dan ku tarik perlahan isi amplop itu. Tanpa diminta sekalipun, ia meleleh. Batinku tergores untuk yang kesekian kalinya. Benarkah?” gumamku. Ketika harapan tak sesuai dengan realita hannya kecewa yang menyeruak sangat dalam. Bahkan akal sehatku hilang.  Tak peduli akan darah yang mengalir. Aku berlari sekuat mungkin, tak peduli siapa pun yang memanggilku.
Bahtera kafan mulai berlabuh di depan mataku, bunyi sangkakala itu pun terdengar melantun dengan kerasnya tepat di telingaku, akh benarkah kematian itu tlah datang menjemput ku? Lalu apa yang aku bawa menghadapnya? Sepotong amal dan segunung dosakah? Tapi Tuhan… aku ingin pulang..
Sejenak aku terdiam ketika Putus asa menyergapku, semestinya kenyataan itu tak terangkai tepat di depan mataku, ahh mata ini terlalu jeli untuk melihat tentang sebuah kenyataan pahit, mungkinkah aku masih bisa bertahan dengan kondisi seperti ini? Aku tidak sanggup Tuhan. Mengapa tak kau ambil saja diri ini…? Nafasku mulai tersenggal, aku tak mampu lagi berlari dan melangkahkan kakiku, semuanya terbalik, seakan menghukumku.
Tak berapa lama kemudian bunda menemukanku tergeletak lemah dan tak berdaya diantara kerumunan orang-orang yang sedang menikmati indahnya langit Bantaeng. Tak ada seorang pun yang mengulurkan tangannya untukku. Mata yang biasa kulihat memancarkan senyum kini berlinang dengan sejentik air. Hanya itu yang ku ingat.
Tiba-tiba saja smuanya terasa gelap, tak ada lagi cahaya yang seringkali ku lihat. Entah ini mimpi atau hanya imajinasi belaka, aku bertemu dengan kakek yang setahun lalu pulang ke rahmatullah. Ia mengulurkan tangan kanannya untukku, hampir saja aku meraihnya. Tapi bunda membangunkanku dari tidur yang panjang.
Tak terasa fajar ternyata telah mengintip dibalik jendela, tidurku terlalu pulas, sampai-sampai aku tidak mendengar nyanyian sang Jago milik pak Ahmad dan tetesan embun pagi yang menyejukkan kalbu. Hari ini kondisiku mulai pulih,   tapi semangatku tak sepulih kondisiku. Ia lebur bersama dengan bayangannya.
Hari-hari yang biasa ku lalui bersamanya kini hanya tinggal kenangan, smuanya seperti mimpi. Rasanya aku tidak ingin bangun dari mimpi yang begitu panjang. Ahh benarkah smuanya telah berakhir? Tersenyum pun aku tak mampu. Rasa sakit itu benar-benar semakin melumpuhkanku. Aku tak berdaya, aku butuh seseorang untuk membuatku bangkit dan menjadi Idzza yang ceria.
Bunda tentu saja tidak akan pernah tinggal diam melihatku murung. Ia menyodorkan secarik kertas kepadaku, kemudian ia meninggalkanku sendiri dengan mata yang berkaca-kaca. Walau ia tak mengungkapkannya tapi aku mengerti akan kesedihannya. Aku juga tahu, ia rindu gelak tawaku yang lepas. Perlahan ku baca isi kertas itu, Jl. Melati Blok M/26. Hatiku mulai menerka, bukankah ini sbuah alamat pesantren? Untuk apa? Aghhh sungguh sulit, sebenarnya aku ingin menghampirinya dan mengatakan bunda aku minta maaf, Saat ini aku hanya ingin pulang. Aku lelah Tuhan, kirimkan malaikat untuk menjemputku, disini. Walau sebenarnya masih banyak mimpi yang belum ku genggam..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar