Aku Ingin Pulang
Dedaunan
di pinggir kali itu mulai berguguran seperti hujan ketika kemarau berganti.
Mengguyur seisi planet biru ini. Kali ini bukan air yang jatuh, tapi dedaunan
kuning dan kering terpisah dari populasi hijaunya. Menyebalkan tapi aku tak
ingin mengingkari kodratnya,. Aku yakin ia pun sedih seperti ku. Karena
keegoisan alam ia harus gugur dan menjadi sampah. Ahh rasanya aku tidak ingin
terbangun dari mimpi yang sangat panjang, tapi mentari itu menyengat kulitku
melalui jendela ruangan ini.
Oksigen
baru, benar-benar terasa asing dalam hembusan nafasku sendiri. Aku harus tegar.
Walau berkali-kali semut-semut kecil itu mengecup nadiku dengan manja. Tak kenal kapan ia melumpuhkanku. Benar-benar
gelap., lagi dan lagi aku membuat bunda panik. Seringkali aku tak sadarkan
diri. Sejak saat itu aku sering berkawan dengan cairan-cairan putih dan
semut-semut kecil milik ayah dan para rekan kerjanya.
Senja
yang indah, rasanya aku ingin berlari diantara keramaian itu. Bersenda gurau
dengan sunset-sunset dan semua pecintanya. Ditambah lagi gemuruh ombak di
pantai seruni seakan memanjakan mataku. Rasanya aku ingin berdiri
ditengah-tengah keramaian itu. Tapi langkahku terhenti semut-semut itu masih
mengecup manja nadiku. Aku hanya bisa melihatnya melalui jendela. Perlahan mataku
tertuju pada sebuah amplop besar yang tersusun rapi diatas rak dekat
pembaringan itu. Awalnya aku ragu dengan kemampuan akomodasi indraku. molekul
keyakinan pun kusatukan menjadi partikel-partikel. “Alissya Zhivhanka Ghinayah
Zhulfa Idzzati" yah tidak salah
lagi. Bukankah hasil pemeriksaannya
kemarin sudah ada dirumah tapi mengapa masih ada disini?”
Ribuan
tanya pun menghantuiku, ada perasaan takut yang menyergapku. Perlahan kuraih
dan ku tarik perlahan isi amplop itu. Tanpa diminta sekalipun, ia meleleh.
Batinku tergores untuk yang kesekian kalinya. Benarkah?” gumamku. Ketika
harapan tak sesuai dengan realita hannya kecewa yang menyeruak sangat dalam.
Bahkan akal sehatku hilang. Tak peduli
akan darah yang mengalir. Aku berlari sekuat mungkin, tak peduli siapa pun yang
memanggilku.
Bahtera kafan
mulai berlabuh di depan mataku, bunyi sangkakala itu pun terdengar melantun
dengan kerasnya tepat di telingaku, akh benarkah kematian itu tlah datang
menjemput ku? Lalu apa yang aku bawa menghadapnya? Sepotong amal dan segunung
dosakah? Tapi Tuhan… aku ingin pulang..
Sejenak
aku terdiam ketika Putus asa menyergapku, semestinya kenyataan itu tak
terangkai tepat di depan mataku, ahh mata ini terlalu jeli untuk melihat
tentang sebuah kenyataan pahit, mungkinkah aku masih bisa bertahan dengan
kondisi seperti ini? Aku tidak sanggup Tuhan. Mengapa tak kau ambil saja diri
ini…? Nafasku mulai tersenggal, aku tak mampu lagi berlari dan melangkahkan
kakiku, semuanya terbalik, seakan menghukumku.
Tak
berapa lama kemudian bunda menemukanku tergeletak lemah dan tak berdaya
diantara kerumunan orang-orang yang sedang menikmati indahnya langit Bantaeng.
Tak ada seorang pun yang mengulurkan tangannya untukku. Mata yang biasa kulihat
memancarkan senyum kini berlinang dengan sejentik air. Hanya itu yang ku ingat.
Tiba-tiba
saja smuanya terasa gelap, tak ada lagi cahaya yang seringkali ku lihat. Entah
ini mimpi atau hanya imajinasi belaka, aku bertemu dengan kakek yang setahun
lalu pulang ke rahmatullah. Ia mengulurkan tangan kanannya untukku, hampir saja
aku meraihnya. Tapi bunda membangunkanku dari tidur yang panjang.
Tak
terasa fajar ternyata telah mengintip dibalik jendela, tidurku terlalu pulas,
sampai-sampai aku tidak mendengar nyanyian sang Jago milik pak Ahmad dan
tetesan embun pagi yang menyejukkan kalbu. Hari ini kondisiku mulai pulih, tapi
semangatku tak sepulih kondisiku. Ia lebur bersama dengan bayangannya.
Hari-hari
yang biasa ku lalui bersamanya kini hanya tinggal kenangan, smuanya seperti mimpi.
Rasanya aku tidak ingin bangun dari mimpi yang begitu panjang. Ahh benarkah
smuanya telah berakhir? Tersenyum pun aku tak mampu. Rasa sakit itu benar-benar
semakin melumpuhkanku. Aku tak berdaya, aku butuh seseorang untuk membuatku
bangkit dan menjadi Idzza yang
ceria.
Bunda
tentu saja tidak akan pernah tinggal diam melihatku murung. Ia menyodorkan
secarik kertas kepadaku, kemudian ia meninggalkanku sendiri dengan mata yang
berkaca-kaca. Walau ia tak mengungkapkannya tapi aku mengerti akan kesedihannya.
Aku juga tahu, ia rindu gelak tawaku yang lepas. Perlahan ku baca isi kertas itu,
Jl. Melati Blok M/26. Hatiku mulai menerka,
bukankah ini sbuah alamat pesantren? Untuk
apa? Aghhh sungguh sulit, sebenarnya aku ingin
menghampirinya dan mengatakan bunda aku minta maaf, Saat ini aku hanya
ingin pulang. Aku lelah Tuhan, kirimkan
malaikat untuk menjemputku, disini. Walau sebenarnya masih banyak mimpi yang
belum ku genggam..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar