Jumat, 19 Oktober 2012

                                                                     Dia

Dia menggelindingkan segenap hati yang remuk dan jiwa yang tersisihkan
Dia adalah langit yang menaungi kehidupanku
Aku mengenal dia,
Lebih dari sang Laut mengenal hempasan ombaknya
Lebih dari sang batara mengenal teriknya
Lebih dari sang senja mengenal sunsetnya
Lebih dari sgala yang mereka tau tentang dia
Lebih dari sang angin mengenal hembusannya
Lebih dari apa dan siapa mereka
Yang aku tau….
Dia yang mengajarkanku tersenyum saat Kristalku retak
Dia yang mengajarkanku tegar saat air mata mulai berkaca
Dan pada akhirnya aku mengerti bahwa dia adalah miracle nafasku
Dia  mampu mengalihkan sgala yang ku punya.
Sgala yang ku damba, tertuju padanya.
                Tahukah kau , dia siapa?
                Dia adalah Kekasihku..
                Awalnya aku tak dapat menjawabnya, karena gemersik debu jalanan menutup indera ku..
 Menghilang saat November menjelang,
Dan aku pun sendiri
Kembali sebelum aku menemukannya di persimpangan jalan itu..
Ahhhhhhh, dia dimana?
bayangannya ikut terbenam di balik bukit Takalar yang menyejukkan jiwanya,
tapi membuatku terapung, sendiri menjalani waktu..
aku selalu bertanya kepada  kabut,
kemanakah aku harus mencari kepastian tentangnya..
kembalikan dia untuk ku, aku tahu goresan tinta itu menyita waktunya tapi aku tidak ingin ia
menghilang.
Aku tak dapat lagi menghitung angka-angka kerinduan yang tlah menjadi pulau.
Menyiksa batinku….
Aku ingin mencari bayangan itu, tapi gerak langkahku tertimbun dibalik kerak bumi..
Tuhanku, aku tersesat ..
Tak ingin ku menyerah, cinta ku terlampau besar untuknya..
Tapi aku benci, dia membiarkanku sendiri,
sepi dalam sayup yang memilukan hati..
Oh batara surya, katakan padanya, aku rindu pasir-pasir yang slalu ia ciptakan untuk ku…
Aku merindukan gelak tawanya yang lepas..
Aku rindu darinya tentang sgala yang mengalihkan dunia ku
Ya, ketika January menjelang,
Aku menemukannya terdiam dalam senyum yang hangat,
Menyapa relungku, aku ingin merangkulnya dalam kepulauaan rinduku,
Mungkinkah?
Bisakah?
Akankah?
Benarkah?
Ataukah?
Aku pun ikut terdiam
Aku takut hatinya bukan lagi untuk aku.
Aku takut dia bukan 09 Mei ku..
Mencoba yakin walau hati hinggap dalam ragu..
Ku kumpulkan segenap keberaniaanku
Perlahan asap yang mengepul di angkasa berubah menjadi awan
Langit pun cerah berbaur menjadi sedia kala
Matanya berbicara , ya ini aku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar